Menabung
bukan hanya sekadar menyisihkan uang. Kenali tujuan kita menabung serta
berbagai aturannya agar uang kita tersebut (kelak) bermanfaat!
SETIAP
bulan mungkin kita tidak pernah absen menyisihkan sebagian penghasilan
kita untuk ditabung. Medium yang kita pilih pun bervariasi, mulai dari
tabungan biasa, deposito, logam mulia sampai surat berharga. Untuk
mencari tahu jenis yang cocok dengan tujuan dan kebutuhan kita.
Save It For The Rainy DayApakah
tujuan kita menabung adalah untuk menyiapkan dana yang sewaktu-waktu
diperlukan? Misalnya saat kita kehilangan pekerjaan, untuk pengobatan
atau liburan? Pilih tabungan yang memberikan keuntungan lebih dan
bersifat jangka panjang. Untuk tabungan seperti ini, mungkin kita memang
tidak bisa berharap pada suku bunga yang tinggi, akan tetapi ada
beberapa tabungan yang menawarkan nilai lebih, yaitu hadiah dengan nilai
ekonomis tertentu. Misalnya cash reward,
vocer belanja, hadiah gadget sampai undian yang dilakukan secara
periodik. Lumayan, kan? Seberapa besar tabungan yang harus kita sisihkan
untuk kepentingan tidak terduga ini? Besarnya bervariasi tergantung
dari pengeluaran kita selama sebulan. Apabila kita masih single,
siapkan dana darurat sebesar enam kali pengeluaran bulanan, sedangkan
untuk yang sudah berkeluarga membutuhkan setidaknya 12 kali dana
pengeluaran setiap bulan sebagai dana darurat.
The Extra MoneyKabar baiknya, setelah menyisihkan
uang untuk menabung, membayar pengeluaran wajib bulanan, termasuk
beramal/membayar perpuluhan, ternyata masih ada sejumlah dana ‘nganggur’
yang jumlahnya lumayan. What to do? Saatnya
berinvestasi. Jangan malas untuk mempelajari jenis investasi seperti
apa yang kira-kira sesuai dengan profil kita. Apakah kita termasuk
berani ambil risiko? Tirsa (29), konsultan di suatu perusahaan
komunikasi memilih melakukan investasi dengan membeli logam mulia.
Setiap bulannnya, secara teratur Tirsa memesan logam-logam emas
bersertifikat yang disimpannya di safe deposit box.
“Saya dibesarkan dengan cara konvensional. Memiliki investasi dalam
bentuk fisik lebih memeberikan perasaan aman ketimbang saya harus
ketar-ketir melihat uang saya di putar dalam bentuk investasi lain,”
jelas Tirsa. Berbeda dengan Rana (32), pemilik toko bahan-bahan organik
di Jakarta yang mengaku lebih memilih berinvestasi dengan membeli
reksadana ketimbang logam karena urusan kepraktisan. Terutama karena
pekerjaannya yang membutuhkan aktivitas traveling tinggi
setiap bulan. “Yang saya lakukan adalah meminta bank saya melakukan
pembelian reksadana tertentu setiap bulan dengan memotong langsung
tabungan saya. Sangat praktis dan saya tinggal menunggu laporan
pertumbuhan investasi saya setiap bulan,” jelasnya.
Seputar Menabung
1. Berapa banyak harus menabung? Hitungan dasarnya adalah 20:80. 20 % untuk menabung, dan 80 % adalah untuk menunaikan semua kewajiban bulanan kita.
1. Berapa banyak harus menabung? Hitungan dasarnya adalah 20:80. 20 % untuk menabung, dan 80 % adalah untuk menunaikan semua kewajiban bulanan kita.
2. Susah nabung karena godaan sale? Beberapa
mal tertentu menetapkan jadwal sale mereka di waktu-waktu tertentu.
Berbelanjalah di waktu-waktu tersebut. Selain itu, jadilah konsumen
cermat. Saat salebiasanya ada privilage yang diberikan untuk pemilik tabungan atau kartu kredit tertentu. Manfaatkan aneka penawaran tersebut.
3. Jangan buang receh.
Mentang-mentang uang kecil, lantas kita meletakkannya begitu saja
dimana-mana. Padahal kalau dikumpulkan, sebenarnya jumlahnya lumayan dan
bisa menutupi pengeluaran harian. Mulai dari membeli air galon sampai
membayar parkir. Letakkan uang receh dalam wadah kecil dengan
nominal-nominal tertentu. Bisa juga menukarkannya ke minimarket terdekat yang pasti akan dengan senang hati menerima pecahan uang kecil kita.
4. Finacial planner, butuh atau tidak? Tergantung.
Bila kita memiliki pemasukan yang lumayan, memiliki rencana investasi
bernilai besar dan benar-benar tidak punya waktu untuk mengurus
keuangan, silahkan saja. Lakukan riset untuk menemukan jasa penasihat
keuangan yang dapat diandalkan. Merasa sayang mengeluarkan uang membayar
perencana keuangan? Jangan khawatir, sekarang sudah banyak buku
mengenai investasi dan pengelolaan keuangan. Kalau bukan kita yang
bertanggungjawab terhadap keuangan kita, siapa lagi? DS (Sarah Roos/Foto: Pandegajaya)