Monday, July 30, 2012

Aturan Menabung

Menabung bukan hanya sekadar menyisihkan uang. Kenali tujuan kita menabung serta berbagai aturannya agar uang kita tersebut (kelak) bermanfaat!
SETIAP bulan mungkin kita tidak pernah absen menyisihkan sebagian penghasilan kita untuk ditabung. Medium yang kita pilih pun bervariasi, mulai dari tabungan biasa, deposito, logam mulia sampai surat berharga. Untuk mencari tahu jenis yang cocok dengan tujuan dan kebutuhan kita.
Save It For The Rainy DayApakah tujuan kita menabung adalah untuk menyiapkan dana yang sewaktu-waktu diperlukan? Misalnya saat kita kehilangan pekerjaan, untuk pengobatan atau liburan? Pilih tabungan yang memberikan keuntungan lebih dan bersifat jangka panjang. Untuk tabungan seperti ini, mungkin kita memang tidak bisa berharap pada suku bunga yang tinggi, akan tetapi ada beberapa tabungan yang menawarkan nilai lebih, yaitu hadiah dengan nilai ekonomis tertentu. Misalnya cash reward, vocer belanja, hadiah gadget sampai undian yang dilakukan secara periodik. Lumayan, kan? Seberapa besar tabungan yang harus kita sisihkan untuk kepentingan tidak terduga ini? Besarnya bervariasi tergantung dari pengeluaran kita selama sebulan. Apabila kita masih single, siapkan dana darurat sebesar enam kali pengeluaran bulanan, sedangkan untuk yang sudah berkeluarga membutuhkan setidaknya 12 kali dana pengeluaran setiap bulan sebagai dana darurat.
The Extra MoneyKabar baiknya, setelah menyisihkan uang untuk menabung, membayar pengeluaran wajib bulanan, termasuk beramal/membayar perpuluhan, ternyata masih ada sejumlah dana ‘nganggur’ yang jumlahnya lumayan. What to do? Saatnya berinvestasi. Jangan malas untuk mempelajari jenis investasi seperti apa yang kira-kira sesuai dengan profil kita. Apakah kita termasuk berani ambil risiko? Tirsa (29), konsultan di suatu perusahaan komunikasi memilih melakukan investasi dengan membeli logam mulia. Setiap bulannnya, secara teratur Tirsa memesan logam-logam emas bersertifikat yang disimpannya di safe deposit box. “Saya dibesarkan dengan cara konvensional. Memiliki investasi dalam bentuk fisik lebih memeberikan perasaan aman ketimbang saya harus ketar-ketir melihat uang saya di putar dalam bentuk investasi lain,” jelas Tirsa. Berbeda dengan Rana (32), pemilik toko bahan-bahan organik di Jakarta yang mengaku lebih memilih berinvestasi dengan membeli reksadana ketimbang logam karena urusan kepraktisan. Terutama karena pekerjaannya yang membutuhkan aktivitas traveling tinggi setiap bulan. “Yang saya lakukan adalah meminta bank saya melakukan pembelian reksadana tertentu setiap bulan dengan memotong langsung tabungan saya. Sangat praktis dan saya tinggal menunggu laporan pertumbuhan investasi saya setiap bulan,” jelasnya.
Seputar Menabung
1. Berapa banyak harus menabung? Hitungan dasarnya adalah 20:80. 20 % untuk menabung, dan 80 % adalah untuk menunaikan semua kewajiban bulanan kita.
2. Susah nabung karena godaan sale? Beberapa mal tertentu menetapkan jadwal sale mereka di waktu-waktu tertentu. Berbelanjalah di waktu-waktu tersebut. Selain itu, jadilah konsumen cermat. Saat salebiasanya ada privilage yang diberikan untuk pemilik tabungan atau kartu kredit tertentu. Manfaatkan aneka penawaran tersebut.
3. Jangan buang receh. Mentang-mentang uang kecil, lantas kita meletakkannya begitu saja dimana-mana. Padahal kalau dikumpulkan, sebenarnya jumlahnya lumayan dan bisa menutupi pengeluaran harian. Mulai dari membeli air galon sampai membayar parkir. Letakkan  uang receh dalam wadah kecil dengan nominal-nominal tertentu. Bisa juga menukarkannya ke minimarket terdekat yang pasti akan dengan senang hati menerima pecahan uang kecil kita.
4. Finacial planner, butuh atau tidak? Tergantung. Bila kita memiliki pemasukan yang lumayan, memiliki rencana investasi bernilai besar dan benar-benar tidak punya waktu untuk mengurus keuangan, silahkan saja. Lakukan riset untuk menemukan jasa penasihat keuangan yang dapat diandalkan. Merasa sayang mengeluarkan uang membayar perencana keuangan? Jangan khawatir, sekarang sudah banyak buku mengenai investasi dan pengelolaan keuangan. Kalau bukan kita yang bertanggungjawab terhadap keuangan kita, siapa lagi? DS (Sarah Roos/Foto: Pandegajaya)

No comments:

Post a Comment